Perkiraan Bahaya Kegempaan Daerah Bandung dengan Memperhitungkan Kemungkinan Adanya Sesar-sesar Aktif sebagai Sumber Gempa
Lina Handayani, Dedi Mulyadi, Dadan D. Wardhana, Wawan H. Nur
Pusat Penelitian Geoteknologi – LIPI
Kompleks LIPI, Jl. Sangkuriang Bandung
Tlp. 022 – 2507771, 2503654, Fax. 022 – 2504593
E-mail: lina@geotek.lipi.go.id
Sari
Catatan sejarah maupun katalog gempabumi tidak menunjukkan adanya gempabumi yang pernah melanda kota Bandung. Namun, Bandung dapat dianggap sebagai kota yang rentan terhadap bahaya kegempaan mengingat populasinya yang sangat tinggi dan formasi aluvial yang menutupi sebagian besar dataran Bandung. Bahaya kegempaan daerah ini dimodelkan dengan memasukkan beberapa sesar yang terletak di sekeliling dataran Bandung sebagai sumber getaran gempabumi. Perkiraan bahaya dihitung dalam bentuk percepatan gerakan tanah maksimum dengan menggunakan persamaan atenuasi Boore. Peta bahaya hasil perhitungan model gempabumi menunjukkan adanya 3 zona bahaya. Dua zona merupakan zona dengan tingkat bahaya relatif tinggi, yaitu zona berjarak dekat dengan sumber gempa dan zona cekungan Bandung Selatan. Satu zona yang terletak di antara kedua zona tersebut memiliki tingkat bahaya yang relatif rendah. Hasil pemodelan ini menunjukkan perlunya meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya gempabumi di daerah Bandung.
Kata kunci: Bahaya kegempaan, Cekungan Bandung, percepatan tanah maksimum, sesar aktif.
Abstract
Neither historical records nor earthquake catalogs are shown a devastated earthquake event ever strike Bandung Area. However, Bandung can be considered as one of the most vulnerable cities due to its high population and the alluvium formation that covered a large part of the Bandung plateau. The seismic hazard is modeled by considering several potential active faults that surround Bandung as the seismic sources. Hazard estimation is calculated in the form of peak ground acceleration using Boore’s attenuation equation. The hazard map shows 3 hazard zones. Two zones that have high hazard potential level are the area near the source and the Bandung Basin area. A zone between those two has a relatively lower hazard potential level. This modeling indicates the necessity to raise our awareness toward the seismic hazard in Bandung Area.
Keywords: seismic hazard, Bandung Basin, Peak ground Acceleration, Active Faults.
