Foto Kegiatan

Arsip

Bercermin Pada Tsunami Pangandaran

Oleh: Dr Eko Yulianto*
Tulisan Ini dimuat di harian Media Indonesia tanggal 22 Juli 2006

Sejak bencana gempa bumi dan tsunami melanda bumi serambi Mekah, kecemasan akan datangnya bencana serupa melanda masyarakat Indonesia yang tinggal di sepanjang pantai. Kecemasan itu sekarang seakan memperoleh pembenaran dengan terjadinya kembali bencana gempa dan tsunami yang melanda pantai selatan pulau Jawa terutama di daerah Pangandaran-Tasikmalaya hari Senin 17 Juli 2006. Masyarakat menjadi semakin cemas akan kemungkinan ‘menjalarnya’ bencana ini ke tempat-tempat lain.

Tsunami pada dasarnya adalah bencana ikutan, yaitu bencana yang terjadi karena dipicu oleh bencana lainnya. Yang paling sering memicu terjadinya tsunami adalah gempa bumi. Hanya gempa bumi yang terjadi di bawah permukaan laut dengan pusat gempa berada pada kedalaman kurang dari 30 km dan dengan skala 6,5 skala richter atau lebihlah yang dapat memicu terjadinya tsunami. Semua persyaratan itu terpenuhi dalam kasus gempa yang memicu tsunami di pantai selatan Jawa, senin 17 Juli 2006. Gempa tersebut pusat gempanya berada pada
posisi 9.334°S dan 107.263°E dengan kedalaman sekitar 10 km (sumber: USGS).

Skala gempanya sendiri menurut rekaman USGS adalah sebesar 7,7 skala richter. Posisi pusat gempa menunjukkan bahwa gempa kemungkinan terjadi akibat pergeseran kerak bumi yang terjadi di prisma akresi dengan mekanisme pergerakan vertikal (dip-slip).

Gempa dan tsunami ini seolah menjadi perulangan terhadap peristiwa serupa yang terjadi pada tahun 1921. Dalam catatan sejarah, gempa yang terjadi 1921 memiliki magnitude 7,2. Gempa ini menyebabkan tsunami dengan daerah landaan yang kurang lebih sama dengan tsunami yang terjadi hari senin lalu. Tsunami lain yang dipicu oleh gempa juga pernah melanda pantai selatan pulau Jawa yaitu pada tahun 1840 dan 1859. Namun pusat gempa dan daerah yang terlanda
tsunami berada sedikit ke arah timur dari yang terjadi saat ini atau kurang lebih berada di lepas pantai Yogyakarta.

Hal yang sering menjadi pertanyaan masyarakat adalah, adakah hubungan gempa dan tsunami yang terjadi di Pangandaran ini dengan gempa-gempa yang terjadi sebelumnya terutama gempa Yogyakarta atau gempa-gempa yang terjadi di Sumatra atau di wilayah Indonesia lainnya ? Mungkinkah kejadian gempa ini akan menjadi pemicu gempa lainnya di Jawa ? Hubungan secara langsung dapat dikatakan tidak ada. Mekanisme pergerakan retakan yang memicu kedua gempa tersebut juga berlainan.

Gempa Yogyakarta memiliki mekanisme pergerakan cenderung horisontal (strike-slip) dan terjadi di daratan, meskipun bisa jadi pemicu awalnya adalah tumbukan lempeng samudera Indo-Australia dengan lempeng benua Eurasia. Tsunami Pangandaran terjadi di lepas pantai, dengan pusat gempa pada zona subduksi dipicu oleh pergerakan vertikal (dip-slip) kerak bumi. Yang perlu dipahami masyarakat adalah merupakan suatu kewajaran bahwa gempa dan tsunami sering terjadi di wilayah Indonesia baik dulu maupun di masa datang. Hal ini karena sebagian besar wilayah Indonesia terbentuk akibat tumbukan lempeng-lempeng dan berada di atas zona tumbukan itu. Adanya tumbukan ini mengakibatkan terjadinya retakan-retakan atau sesar di kerak bumi diatasnya. Lempeng-lempeng tersebut terus bergerak dan berinteraksi satu dengan lainnya, sehingga terjadi akumulasi energi. Pada saat akumulasi energi tadi sudah maksimum maka energi tersebut akan dilepaskan (release) dalam bentuk pergeseran kerak bumi baik horizontal maupun vertikal. Maka terjadilah gempa. Jika pergeseran ini terjadi di bawah laut pergeseran kerak yang notabene merupakan deformasi kerak bumi akan mengakibatkan deformasi masa air laut sehingga terjadilah tsunami.

Meskipun sebagian besar tsunami disebabkan oleh gempa bumi yang terjadi di bawah lautan namun tidak setiap gempa bumi di bawah lautan bisa menyebabkan terjadinya tsunami. Gempa yang memiliki pusat gempa yang dalam tidak akan menyebabkan terjadinya deformasi kerak bumi di bawah lautan yang bisa memicu tsunami. Gempa bumi yang diakibatkan pergeseran kerak horizontal (strike-slip) pun umumya tidak memicu terjadinya tsunami.

Benarkah frekuensi kejadian gempa dan tsunami meningkat saat ini ? Jawabannya bisa benar dan bisa juga tidak tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Bisa benar, karena aktivitas gempa merupakan sebuah siklus yang berkaitan dengan pengumpulan dan pelepasan energi di kerak bumi akibat interaksi lempeng. Gempa bumi adalah mekanisme alami melepaskan energi tersebut pada saat energi sudah terkempul maksimal. Bisa jadi memang pada saat-saat inilah energi yang terkumpul di zona-zona tumbukan di Indonesia sudah mencapai maksimal sehingga
pada saat inilah periode pelepasan energi itu terjadi. Bisa salah, karena kejadian gempa dan tsunami adalah kejadian yang senantiasa terjadi di Indonesia. Dalam 100 tahun terakhir saja misalnya, di Indonesia telah terjadi paling tidak 75 kali tsunami. Bahkan nenek moyang kita juga mengalaminya. Dan mereka juga berusaha mengantisipasinya dengan cara mereka. Itulah kenapa di beberapa wilayah di Indonesia berkembang pengetahuan tradisional yang berkaitan dengan bencana gempa dan tsunami seperti pengetahuan smong di pulau Simeulue, syair-syair tentang gempa, tsunami dan tanah longsor di Kepulauan Mentawai, rumah-rumah tradisional yang tahan gempa di beberapa daerah dan sebagainya. Sayangnya, banyak dari pengetahuan tradisional tentang kesiapan menghadapi bencana itu sudah lenyap ditelan derasnya arus globalisasi.

Lepas dari kemungkinan saling keterkaitan antara gempa-gempa yang terjadi, ada hal-hal bisa dilakukan bersama masyarakat dan pemerintah untuk menekan kerugian dan jumlah korban jika bencana gempa dan tsunami melanda di masa-masa mendatang (usaha mitigasi). Penelitian gempa dan tsunami yang pernah terjadi di masa lalu dengan berbagai metode secara detil menjadi salah satu poin yang perlu segera dilakukan. Penelitian ini akan memberikan pemahaman tentang pola perulangan bencana, daerah rawan bencana dan karakter bencana yang sangat diperlukan dalam usaha mitigasi bencana. Menengok kejadian gempa Yogyakarta,
pemerintah juga perlu menggalakkan usaha pemetaan sesar-sesar aktif yang banyak tersebar di seluruh wilayah Indonesia karena sesar-sesar ini berpotensi untuk menimbulkan bencana. Upaya lain yang harus terus menerus dilakukan adalah peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Dan ini berlaku bukan saja untuk bencana gempa dan tsunami namun juga semua bencana yang berpotensi terjadi di wilayah Indonesia.

Kesiapsiagaan itu meliputi kemampuan mengenali bencana yang berpotensi terjadi di lingkungan tempat tinggal, kemampuan mengenali tanda-tanda akan terjadinya bencana, dan kesadaran untuk mengelola lingkungan tempat tinggal yang ramah bencana. Kita semua harus selalu sadar bahwa kondisi tenang tanpa bencana adalah masa persiapan menghadapi bencana. Dan hal ini harus tertanam dalam di hati kita masing-masing karena kita memang harus hidup berdampingan dengan bencana. Perlu dicamkan bahwa negeri kita adalah supermarket bencana.

*Dr. Eko Yulianto adalah Peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

  • Share/Bookmark

You must be logged in to post a comment.