BCF BRIN Solusi Subtitusi Energi Bagi Industri

Bandung, Humas BRIN. Wajah Hendra Rustandi tidak berhenti tersenyum menjawab pertanyaan para pegawai Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah beserta rombongan dari DLH Kab. Magelang dan DLH Kab. Semarang. Sesekali dengan antusias ia menganggukan kepalanya, menyetujui dan terkadang memberikan koreksi terhadap pendapat orang-orang di depannya. Mereka tiba di PT Tata Cakra Investama (PT TCI), setelah sebelumnya bertolak dari BRIN Kawasan Multisatker Bandung, Kamis (10/2022). Mereka penasaran, bagaimana batu bara bisa menjadi pilihan solusi lingkungan sekaligus subtitusi sumber energi pada industri.

“Sesuai dengan eco-green kita tidak lagi membawa limbah industri ini keluar lokasi dan kedua pemakaian batu bara bisa berkurang hingga 30%,” terang Hendra yang juga merupakan Manajer HRD PT TCI. Implementasi teknologi Biomass-Coal Fuel (BCF) BRIN ini menurutnya telah membantu keberlangsungan perusahaan. Terlebih sebagai perusahaan tekstil yang memerlukan cukup banyak energi, kehadiran BCF meningkatkan efisiensi pembakaran hingga lebih dari 30%. Perusahaan juga terlepas dari biaya pembuangan limbah ke luar pabrik terkadang beresiko sekaligus menghemast pengeluaran. “Jadi sangat positif dan mudah-mudahan SLO dari KLHK bisa segera turun,” tuturnya.

PT TCI adalah salah satu perusahaan tekstil yang menggantungkan sumber energinya dari batu bara. Pusat Riset Geoteknologi BRIN lalu menggandeng PT TCI sebagai salah satu mitra industri dalam proyek penerapan teknologi dan sistem produksi BCF skala industri. Tak dinyana, proyek yang dirintis sejak 2019 ini membawa manfaat besar bagi perusahaan. Peneliti Pusat Riset Geoteknologi Anggoro Tri Mursito ada setidaknya 200 industri yang memakai batu bara di wilayah Bandung Raya. Jumlah limbah yang dihasilkan bisa mencapai 1500 ton/hari. “Ternyata dari sekian ribu sekitar 20-40% bottom ash dan fly ash adalah batu bara yang tidak terbakar sempurna,” tuturnya.

Batu bara yang tidak terbakar sempurna inilah yang kemudian diolah menjadi BCF. Lebih lanjut, Anggoro mengatakan energi yang ada pada unburnt coal sisa pembakaran batu bara lebih tinggi daripada batu bara yang digunakan. Kombinasi dari biomassa, binder, air, dan bottom ash adalah bahan pembentuk BCF. Biomassa adalah salah satu unsur yang dibutuhkan untuk membuat BCF. Bahan pembuatan biomassa bisa dipanen dari sampah organic dan anorganik ringan yang acapkali menjadi problematika perkotaan. Itulah kenapa BCF juga bisa menjadi salah satu alternatif solusi. “Kami menyebut ini produk sampingan karena masih memiliki nilai ekonomi yang bisa ditingkatkan,” seru Anggoro yang juga manajer program pengembangan sumber energi terbarukan co-generation berbasis batubara dan biomassa.

Produk BCF ini terbagi menjadi 3 tipe yaitu: BCF Briket, BCF Pellet, dan BCFS Briket. Anggoro menjelaskan perbedaan utama dari ketiga tipe tersebut terletak pada aspek pemanfaatannya. Jika briket lebih banyak digunakan untuk boiler maka pellet biasanya untuk gasifier. Salah satu perusahaan lain yang menjadi mitra BRIN dalam proses pemanfaatan pellet untuk gasifier ini adalah PT Hariff Daya Tunggal Engineering. Adapun peralatan yang dibutuhkan untuk membuat BCF adalah mesin mixer, mesin pembuatan perekat, dan mesin pencetak. Total biayanya tidak lebih dari Rp 158 juta. “Pellet ini isinya juga ada kotoran hewan karena ternyata mampu menurunkan sulfur,” tambah Anggoro.

Teknologi BCF Anggoro klaim sudah sampai tahap TRL (Technology Readiness Level) 7 dan bahkan menuju 8. Layak untuk komersialisasi dan telah dilindungi oleh perangkat HAKI, paten dan sebagainya. Dirinya berharap teknologi ini bisa dilisensikan pada masyarakat atau industri yang memanfaatkannya. Kendati demikian, ia mendorong pihak pemerintah daerah membantu rekan dari industri yang ingin memanfaatkannya. “Industri triple untung secara ekonomi dapat, lingkungan dapat, dan pajak juga dapat pengurangan,” selorohnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3, Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Provinsi Jawa Tengah Tri Astuti mengaku kedatangan rombongan ini bermaksud untuk menerapkan teknologi serupa di wilayah Jawa Tengah. Terutama untuk menanggulangi permasalahan timbulan sampah yang kian bertambah. Jawa Tengah juga memiliki banyak perusahaan yang menggunakan boiler dengan bahan bakar batu bara. Tri amat berharap kunjungannya ini bisa membuahkan hasil berupa implementasi riset-riset BRIN nantinya guna menjawab persoalan yang ada. “Kalau hasil riset ini benar-benar bisa diterapkan saya kira ini menarik sekali,” cetusnya.

Sebelumnya, ada 16 orang yang berasal dari rombongan DLHK Provinsi Jawa Tengah, DLH Kab. Magelang, DLH Kab. Semarang dan DLH Kab. Bandung mengadakan pertemuan singkat di Ruang Meeting Gondwana Gd. 70 BRIN Kawasan Multisatker Bandung. Pada kesempatan tersebut turut hadir Plt. Pusat Riset Geoteknologi BRIN Adrin Tohari yang menyampaikan profil singkat BRIN dan Pusat Riset Geoteknologi. Hadir pula perwakilan Direktorat Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN Arief Rachmat yang menyajikan berbagai informasi implementasi teknologi BRIN di masyarakat. AS