Belajar dari Gempa Banten

Bandung, Humas BRIN. Gempa Banten bermagnitudi M 6.6 yang terjadi pada Januari silam di Banten memberikan pelajaran bagi masyarakat Indonesia khususnya pemerintah untuk mempersiapkan diri menghadapi ancaman gempa-gempa lain di masa mendatang. Peneliti BRIN Nuraini Rahma Hanifa membagikan pengalaman risetnya terkait ancaman Megathrust di pesisir selatan Pulau Jawa pada webinar gempa bumi banten 14 Januari 2022, (21/1/2022) melalui zoom.

Gempa Banten yang terjadi Januari silam berdampak pada 30 kecamatan di 171 desa dengan 2.556 rumah rusak, Meski tidak ada korban jiwa, namun dua warga yang mengalami luka-luka. Rahma menghitung akumulasi energi dari data GPS dimana pergerakan lempeng Indo-Australia terus terjadi potensinya bisa mencapai M 8.7. “Selama bumi berotasi subduksi di selatan jawa terus bergerak,” terangnya. BRIN sendiri telah memasang beragam GPS yang memungkinkan pemantauan regangan dan deformasi yang terjadi di zona subduksi.

Rahma menambahkan jika Indo-Australia mendorong Pulau Jawa ke arah timur laut. Pola interseismek atau pola sebelum gempa gempa terjadi biasanya ada deformasi mendadak. Di Sumatera Pusat Riset Geoteknologi bekerja sama dengan Singapura memasang Sumatran GPS Array (SuGAr). Sebuah jaringan yang membentang lebih dari seribu kilometer dari batas lempeng konvergen antara lempeng tektonik Indo-Australia dan Asia. Dengan 49 stasiun GPS, jaringan ini menyediakan banyak informasi tentang megathrust Sunda dan patahan Sumatra.

“Kita bisa lihat pergerakan gempa Aceh, Nias, Bengkulu, Mentawai,” sambung Rahma. Setelah gempa terjadi dia juga mengatakan adanya proses relaksasi yang disebut post-seismic dimana energi regangan Kembali dikumpulkan. Dorongan lempeng Indo-Australlia terakumulasi secara terus menerus. Rata-rata 4cm/tahun untuk kedalaman 20-50 KM dan 6 cm/tahun untuk bagian dangkal di dekat palung. Jika terus menerus terjadi dalam kurun 300 tahun maka akumulasi energinya setara dengan M 8.7. “Gempa kemarin terjadinya di bagian pinggi zona megathrust dan biasanya gempa-gempa besar dimulai dari pinggirannya,” cetus Rahma.

Ia menambahkan semakin lama kekosongan waktu semakin besar pula akumulasi energi yang bisa terjadi. Tentu saja ancaman gempa M 8.7 bisa berupa goncangan, gerakan tanah, hingga tsunami. Dengan pemodelan tinggi gelombang tsunami yang dihasilkan bisa mencapai 20 M. Gempa banten mengingatkan kita dan membuat kita harus lebih siap lagi untuk gempa yang lebih besar nanti. Jika M 8.7 energinya akan berpuluh kali lebih besar masih banyak PR yang kita miliki terkait mitigasi dan antisipasi. “BRIN sendiri akan membuka Pusat Riset Riset Kebencanaan Geologi dan mendukung studi hazard dari hulu sampai ke hilir,” pungkas Rahma.

Sebelumnya, Deputi Bidang Geofisika BMKG Suko Prayitno Adi meminta seluruh peserta zoom untuk selalu menyadari keberadaannya; tinggal di Ring of Fire. Aktivitas gempa senantiasa terjadi baik terasa maupun tidak. Gempa Banten kemarin adalah kesempatan untuk semua pemangku kepentingan terkait menyiapkan mitigasi dan solusi terbaik sehingga kepanikan masyarakat dan tentunya korban jiwa bisa diminimalisir. “Semoga menghasilkan rekomendasi dan pengetahuan yang baik bagi kita,” tuturnya saat membuka webinar.

Turut hadir dalam webinar ini Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG Nelly Florida, penelit BMKG Mohammad Ramdhan, dan Koordinator Bidang Seismologi Teknik BMKG, Dadang Permana. Tujuan utama webinar ini adalah mempertemukan peneliti, praktisi, dan akademisi untuk berdiskusi dan berbagi hasil riset terbaru mereka terkait gempa bumi Banten dan Tsunami Toga yang terjadi beberapa waktu silam. “Sehingga tahu dan paham apa-apa yang bisa diterapkan oleh BMKG,” pungkas Nelly. AS