Refleksi dan Proyeksi Gempa di Indonesia dan Kiat Dalam Mitigasi

Bandung, Humas BRIN. Kita tentu saja telah familiar bahwa Indonesia merupakan negara yang terletak pada cincin api atau lebih tepatnya di mahkotanya, sehingga rawan terhadap gempa, gunung api, pergerakan tanah, dan curah hujan yang tinggi. Indonesia juga merupakan negara tropis sehingga menjadi wajar bencana geologi sering terjadi, namun menjadi tidak wajar ketika tidak memahami bencana tersebut dan tidak melakukan mitigasi yang tepat. Hal ini karena seiring dengan perkembangan populasi, infrastruktur yang bertambah, maka efek dari bencana resikonya menjadi semakin tinggi dan riskan. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Danny Hilman Natawidjaja dalam “Refleksi Akhir Tahun: Membaca Secara Ilmiah Kebencanaan 2021 di Indonesia” (27/12) melalui program Prof Talk.

“Indonesia memiliki 150 gunung api dan berada diantara 3 lempeng yang bergerak cepat, serta sesar aktif berupa zona subduksi diantaranya megathrust dan banyak sekali sesar-sesar di daratan, diantara sesar sumatera, sesar baribis kendang, dan lainnya,” ungkapnya.

Rekaman gempa tahun 1900 – 2019 dalam katalog gempa yang dibuat oleh Pusat Studi Gempa Nasional 2107, yang kemudian kemudian diformulasikan menjadi peta zonasi peta Indonesia, berfungsi sebagai kode bangunan tahan gempa. Peta zonasi ini telah dituangkan dalam SNI 1726 tahun 2019. “Jika rumah atau infrastruktur di Indonesia telah dibangun sesuai dengan kode SNI tersebut maka bencana gempa sebagian besar tidak masalah lagi, namun ada bahaya lain selain gempa,” terangnya.

“Untuk dapat memitigasi bencana, maka perlu diketahui sumber bencananya itu sendiri, membuat karakterisasi setiap bencana, memetakan jalurnya dengan sebaik-baiknya, dan jika pengetahuan kita telah cukup maka kita dapat membuat peta mitigasi yang lebih tepat dan benar,” tegasnya.   

Gempa merupakan gerakan pada sesar, proses deformasi elastik sehingga ada siklus, proses akumulasi, proses pelepasan dan pergerakan. Aktivitas ini berlangsung secara terus menerus sehingga gempa merupakan satu siklus yang ada periode ulangnya. Jika siklus gempa itu ideal (deformasi elastic) maka gempa mudah ditebak karena siklusnya teratur. Namum karena di alam banyak faktor yang mempengaruhi, sumber gempa saling berinteraksi dengan yang lainnya, sehingga siklus gempa dari masing- masing sumber gempa menjadi sulit diprediksi. 

Untuk dapat memprediksi gempa ada 2 macam, yaitu prediksi gempa jangka panjang dimana yang dipelajari siklus gempanya, potensi gempa berapa magnitudonya, lokasi terjadi gempa, dan efeknya seperti apa di wilayah sekitarnya. “Prediksi jangka pendek, dengan melihat tanda-tandanya belum akurat, diseluruh dunia belum ada satu metode yang bisa memprediksi kapan akan terjadi gempa secara tepat. Sehingga yang dapat di prediksi adalah lokasinya dimana, besar potensinya magnitudo gempanya, dan resiko atau efeknya bagaimana dari data ini bisa dimitigasi sehingga bisa diminimalisir kerusakannya tanpa harus tahu kapan terjadi gempa,” tegasnya.

Sulit memprediksi kapan gempa terjadi dan belum ada metode yang mampu melakukannya. Hal yang bisa diprediksi ialah lokasi, potensi magnitude, dan resiko atau efek yang ditimbulkan. “Jadi kalau ada ramalan gempa 2 hari lagi itu hoaks,” cetusnya.

Ada banyak metode untuk memetakan gempat diantaranya: (1) metoda topografi saat ini yang dimiliki oleh BIG adalah Demna 8.5m, kedepannya diharapkan dengan menggunakan LIDAR, jika seluruh Indonesia dapat menggunakan LIDAR maka kita dapat memetakan peta gempa dengan akurat, (2) metoda geofisika dangkal dengan ERT dan GPR, dan lainnya. “Salah satu contoh kegiatan dalam memetakan jalur sesar aktif di wilayah Morowali, karna wilayah ini sedang berkembang menjadi salah satu sentra industri, maka kami petakan dengan cukup detail termasuk memakai lidar, geo listrik, geo radar, dan melakukan trenching pada sesmologi untuk mengetahui jarak gempa dimasa lampau (seberapa sering dan berapa besar), sehingga memitigasi efeknya dimasa depan,” ungkapnya.  

Refleksi 5 tahun terakhir sedari tahun 2017 hingga sekarang, gempa terjadi karena Lempeng Pasific yang bergerak 12 cm dan Lempeng India-Australian juga terus bergerak. Berdasarkan statistik, setiap tahunnya banyak gempa yang terjadi mencapai magnitude di atas 4 sekitar 2500- 3000an, sementara itu magnitude diatas 6 rata-rata sebanyak 25 kali tahun 2021, dan gempa dengan magnitude lebih 6,5, rata-rata kurang dari 5 dan tahun ini yang terendah.

“Yang harus dimitigasi dengan adanya bahaya gempa, meliputi: (1) bahaya pergerakan sesar, (2) bahaya goncangan gempa dan (3) bahaya ikutan (likuifaksi gerakan tanah dan tsunami). Indonesia perlu mematuhi SNI tahun 2019 dari peta bahaya Indonesia, dengan meletakkan infrastrukruktur besar pada jarak kurang dari 5-15 km dari potensi, serta lakukan pemetaan tsunami sebaik mungkin dari skala nasional dan regional. Tsunamy early warning system sebagai monitor sebaiknya jangan dijadikan satu-satunya tumpuan, namun kedepannya dilakukan pengembangan yang lebih up to date, dan paling penting jangan abaikan riset dan pendidikan, serta tindakan mitigasi yang menyeluruh,” pungkasnya.  (KG) ed: AS