Foto Kegiatan

Arsip

Workshop Nasional "Geopark Indonesia"

3_001Pengantar

Workshop Nasional “Geopark Indonesia” yang akan diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Geoteknologi – LIPI merupakan suatu bentuk tanggung jawab serta kesadaran sosial institusi kepada para pemangku kepentingan. Tanggung jawab serta kesadaran sosial tersebut diwujudkan di dalam bentuk workshop ini dan diskusi pada kelompok kerja yang terkait dengan manajemen, infrastruktur dan kebijakan pengusulan suatu Geopark di Indonesia oleh dan para pemangku kepentingan itu sendiri sehingga dapat memberikan evaluasi terkininya dan kontribusinya mengenai masalah dan menjawab serta memberikan penyelesaian masalah yang mereka hadapi saat ini dan mendatang.

Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki sumberdaya alam yang melimpah seperti sumberdaya mineral, energi, airtanah dan lain-lain. Namun hal lain yang tidak kalah menariknya untuk diketahui adalah kondisi alam dan geologinya serta keunikan aspek lingkungan hidup yang mungkin tidak dimiliki oleh negara lain.  Sehingga dengan adanya banyak lokasi dan wilayah yang memiliki arti penting sebagai warisan geologi dengan warisan budaya yang mempunyai tiga tujuan utama, yakni konservasi, edukasi dan sustainable development dapat dijadikan suatu konsep untuk wilayah Geopark di Indonesia.

Laporan pelaksanaan ini disusun dengan maksud untuk mengetahui keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, acara, pembiayaan maupun tujuan akhir dari acara ini.

Latar Belakang

Terminologi Geopark disini bukanlah berarti hanya sebagai Taman Bumi yang dipahami dan lebih dikaitkan dengan aspek wisata dan konservasi saja, tetapi merupakan suatu konsep baru yang mulai berkembang sejak tahun 1999. Konsep ini mengintegrasikan pengelolaan warisan geologi (geological heritages) dengan warisan budaya (cultural heritages) dari suatu wilayah untuk tiga tujuan utama, yakni konservasi, edukasi dan sustainable development. Dengan demikian, keberadaan sebuah Geopark tidak hanya membawa misi konservasi dan ekonomi saja seperti layaknya sebuah taman yang memiliki berbagai attraksi, tetapi juga harus dapat menjadi media edukasi dan pemberdayaan masyarakat lokal. Sebuah Taman Geologi yang selama ini hanya memiliki arti penting dan hanya dapat dinikmati oleh kalangan komunitas keilmuan tertentu untuk pengembangan ilmu, dengan konsep ini keberadaannya akan memberikan manfaat yang jauh lebih luas kepada semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat tanpa kehilangan fungsinya sebagai sumber pengembangan ilmu.

6jGeopark dalam terminologi di atas, pertama kali berkembang di Eropa sejak tahun 1999 dan kemudian diikuti dengan pembentukan European Geopark Network (EGN) pada tahun 2000. Konsep ini mendapat dukungan dari UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization) dengan membentuk UNESCO official Global Network of National Geoparks (GNG) pada tahun 2001. Hingga hari ini sudah terdapat 66 Geopark di 21 negara yang masuk ke dalam keanggotaan GNG.  Selain di Eropa, di Asia Cina merupakan negara yang memiliki Geopark terbanyak, yakni sebanyak 22 Geopark, sedangkan di Asia Tenggara baru Malaysia yang memiliki Geopark, yaitu Geopark Pulau Langkawi. Geopark di Malaysia tersebut, sejak 2006 resmi menjadi Geopark pertama di Asia Tenggara di bawah jaringan UNESCO. Sementara itu, Indonesia yang memiliki banyak keunikan fenomena geologis dan kekayaan budaya yang bernilai tinggi masih tertinggal jauh, dan belum bisa memetik manfaat dari semua warisan alam dan budaya tersebut.

Perkembangan pemikiran tentang Geopark di Indonesia :

Pemikiran untuk mengembangkan kawasan yang memiliki warisan geologi sebagai wilayah konservasi dan geowisata di Indonesia, sudah berkembang sejak lama. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya usulan dari Dinas Pertambangan

Jawa Tengah untuk menjadikan kawasan konservasi dan pendidikan geologi Karangsambung sebagai kawasan Taman Bumi atau Geopark. Namun tentu Geopark yang dimaksud disini lebih didasarkan kepada konsep pengembangan kawasan tersebut sebagai tujuan wisata geologi dan pendidikan publik. Berbagai cetusan ide untuk menjadikan Karang Sambung sebagai kawasan konservasi juga sudah lama dilontarkan walau lebih banyak bersifat wacana yang belum didukung oleh konsep yang holistik. Namun demikian, akhirnya pada 14 November 2008 wilayah Karang Sambung diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai cagar alam geologi.

Dalam konteks penetapan suatu wilayah yang memiliki warisan geologi sebagai kawasan konservasi, sejumlah Perda

2

juga telah diterbitkan oleh Pemda terkait, seperti Perda Provinsi Jawa Barat No. 2 tahun 2002 tentang Perlindungan Lingkungan Geologi untuk Kawasan Bukit Pawon di Kabupaten Bandung dan Ciletuh di Kabupaten Sukabumi.

Pemikiran tentang pembentukan Geopark dalam konsep seperti diuraikan di atas, sepertinya telah pernah dilakukan, yaitu ketika kawasan Gunung Rinjani yang telah mendapatkan World Legacy Award dari Conservation International and Traveller (2004) dan finalis Tourism for Tomorrow Awards (2005 dan 2008) dari WTTC (World Travel & Tourism

Council) disepakati oleh sejumlah kalangan dan pakar untuk diusulkan kepada UNESCO agar masuk ke dalam jaringan Geopark dunia. Usulan tersebut diawali dengan pelaksanaan sebuah Seminar pengusulan Kawasan Gunung Rinjani sebagai kawasan Geopark yang digelar pada 17 September 2008. Kesiapan kawasan Gunung Rinjani sebagai Geopark tersebut dipaparkan di seminar Geo SEA (Geo South East Asia) XI- CCOP di Kuala Lumpur Malaysia yang berlangsung pada 8-10 Juni 2009. Dalam seminar tersebut: Taman Nasional Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Gunung Batur di Bali, dan Gunung Sewu di Pacitan, Jawa Timur, diusulkan sebagai Geopark pertama di Indonesia ke UNESCO.

Tujuan Workshop :

  • Untuk menghimpun berbagai pemikiran, data dan informasi serta komitmen bersama untuk pembentukan Geopark di Indonesia.
  • Untuk membentuk Panitia Nasional Geopark Indonesia yang pada ujungnya nanti dapat bertransformasi menjadi Komisi Nasional Indonesia untuk Geopark yang menjadi badan resmi perwakilan nasional dalam pengusulan Geopark ke UNESCO.

Peserta Workshop

Peserta workshop berjumlah 42 orang, yang keseluruhannya itu adalah para wakil institusi pemerintah maupun LSM yang terkait ataupun perorangan yang memiliki perhatian dan ketertarikan dalam pengembangan Geopark di Indonesia serta diharapkan diikuti oleh seluruh pihak yang diwakili oleh :

  1. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia = diwakili oleh 12 peserta aktif
  2. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI = diwakili oleh 4 peserta aktif
  3. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI = diwakili oleh 1 peserta aktif
  4. Kementerian Lingkungan Hidup RI = diwakili oleh 1 peserta aktif
  5. Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional = diwakili oleh 1 peserta aktif
  6. Institut Teknologi Bandung = diwakili oleh 1 peserta aktif
  7. Universitas Gadjah Mada = diwakili oleh 1 peserta aktif
  8. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat= diwakili oleh 5 peserta aktif
  9. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah= diwakili oleh 4 peserta aktif
  10. Pemerintah Provinsi Jawa Barat= diwakili oleh 1 peserta aktif
  11. Pemerintah Provinsi Jambi= diwakili oleh 6 peserta aktif
  12. Pemerintah Provinsi Bali= diwakili oleh 1 peserta aktif
  13. Ikatan Ahli Geologi Indonesia= diwakili oleh 3 peserta aktif
  14. Pusat Promosi Batumulia Indonesia= diwakili oleh 1 peserta aktif

Tempat dan Waktu Workshop

Workshop telah dilaksanakan di Hotel Jayakarta, Bandung pada tanggal 2 dan 3 Agustus 2010

Pelaksana Workshop

Workshop dilaksanakan oleh Pusat Penelitian Geoteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Kumpulan Hasik Diskusi Pokja:

Kumpulan Hasil Diskusi kelompok kerja Manajemen “Geopark Indonesia”

Kumpulan Hasil Diskusi kelompok kerja Infrastruktur “Geopark Indonesia”

Kumpulan Hasil Diskusi kelompok kerja Strategi Kebijakan pengusulan “Geopark Indonesia”


  • Share/Bookmark

Bimbingan Karya Tulis Ilmiah Untuk Kandidat Peneliti

IMG_8715Karya tulis ilmiah yang dihasilkan oleh  peneliti merpakan salah satu tolok ukur dalam berkarya, tulisan ilmiah tidak saja merupakan pertanggungjawaban pada pekerjaan yang dibebankan juga pertanggungjawaban kepada masyarakat. Pada saat ini menulis karya tulis ilmiah yang baik dan benar tidaklah susah, banyak panduan-panduan yang mempunyai standar untuk dijadikan bahan acuan dalam menulis ilmiah bagi  para pemula.

Bagi calon   peneliti/kandidat peneliti di Puslit Geoteknologi – LIPI diharuskan untuk dapat menulis hasil penelitiannya kedalam karya tulis ilmiah, sehingga diperlukan kesiapan dalam menulis karya tulis ilmiah yang baik. Umumnya persolan para kandidat peneliti adalah bagaimana menuangkan ide penulisan, pengambilan data, tatacara /urutan penulisan, analisis data, dan menarik kesimpulan, serta penyaluran hasil karya tulis tersebut.

Majalah RISET Geologi dan Pertambangan ingin menyembatani para calon peneliti untuk dapat menulis karya ilmiahnya, sehingga karya tulis ilmiah tersebut menjadi layak dimuat dalam jurnal ilmiah terutama jurnal terakreditasi LIPI maupun DIKTI, dengan bimbingan dari para redaksi senior di Majalah Riset Geologi dan Pertambangan, dengan sistematika yang baik dan benar.

Harapan kami, kandidat peneliti di Puslit geoteknologi dapat membuat karya Tulis Ilmiah yang jujur, lugas dan tidak duplikasi, sehingga dapat dibaca dalam forum ilmiah kebumian baik nasional maupun internasional

Tujuan bimbingan penulisan ilmiah ini merupakan kontribusi Majalah RISET Geologi dan Pertambangan kepada kandidat peneliti (baru)  sehingga dapat menghasilkan karya tulis ilmiah dan dapat diterima pada  Jurnal terakreditasi LIPI maupun DIKTI.

Sasaran meningkatkan kemampuan penulisankarya tulis ilmiah bagi para kandidat peneliti (baru).Menjaring para penulis baru untuk dapat berkarya di majalah RISET Geologi dan Pertambangan Peserta yang merupakan Kandidat Peneliti dapat segera melangkah kedalam jenjang peneliti,Peserta Bimbingan Penulisan Karya Tulis Ilmiah dikut oleh kandidat peneliti dilingkungan Puslit geoteknlogi – LIPI dan UPT Jampang Kulon.

Acara Bimbingan Penulisan Karya Tulis Ilmiah yang berlangsung pada tanggal 18 -19 dan 30 Agustus, dibuka oleh Ka. Puslit Geoteknologi, Dr. Iskandar Zulkarnain, dalam pengantarnya beliau menyatakan pentingnya sebuah Karya Tulis Ilmiah bagi seorang peneliti. Bimbingan kemudian diisi oleh   oleh Dr. Robert Delinom dan Ir. Sudaryanto MT. APU yang menyampaikan  materi penulisan KTI.

  • Share/Bookmark

SEMINAR RUTIN DAN DISKUSI PUSAT PENELITIAN GEOTEKNOLOGI -LIPI

SEMINAR

Puslit Geoteknologi LIPI mengundang Bapak dan Ibu untuk hadir pada acara seminar rutin dan diskusi yang berjudul :

“EKSPLORASI LAUT DALAM: AKTIVITAS GUNUNG API,HIDROTHERMAL DAN FAUNA”

Pembicara : Dr. HARYADI PERMANA

Hari      : Rabu, 18 Agustus 2010
Waktu     : 10.00 WIB – selesai
Tempat    : Ruang Pangea
Puslit Geoteknologi Gd.70, Lt.2

Demikian undangan ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya kami
ucapkan terimakasih.

  • Share/Bookmark

SEMINAR RUTIN DAN DISKUSI PUSAT PENELITIAN GEOTEKNOLOGI -LIPI

towuti

Puslit Geoteknologi LIPI mengundang Bapak dan Ibu untuk hadir pada acara seminar
rutin dan diskusi yang berjudul :

“TOWUTI LAKE EXPEDITION 2010″

Pembicara : Dr. Hendrik Vogel (Universitas Koeln Jerman)
Moderator : Dr. Sri Yudawati C.

Hari      : Jumat, 13 Agustus 2010
Waktu     : 09.30 WIB – selesai
Tempat    : Ruang Pangea
Puslit Geoteknologi Gd.70, Lt.2

Demikian undangan ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya kami
ucapkan terimakasih.

  • Share/Bookmark